Sudut Pandang: Momentum HUT Bhayangkara ke 73,Kompleksitas Tantangan dan Tugas Polri

SEMARAK peringatan Hari Kepolisian Republik Indonesia  (Bhayangkara) ke 73  (1 Juli 1946 – 1 Juli 2019)  telah menggema di seluruh wilayah Indonesia. Berbagai ucapan terus berdatangan dari berbagai elemen masayarakat, instansi pemerintahan maupun swasta tak terkecuali di wilayah Belitung, provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Pada momentum Hari Bhayangkara ke 73 tahun 2019, berbagai harapan meluncur dari masyarakat terhadap korp berbaju coklat tersebut dalam Melindungi, Mengayomi dan Melayani Masyarakat dengan moto PROMOTER (Profesional, Modern dan Terpercaya)

Sebagai Korps Bayangkara, di usia 73 tahun tergolong sangat matang untuk terus melakukan perbaikan, pembenahan, dan reformasi internal ke arah yang lebih baik, khususnya mewujudkan cita-cita Polri di era reformasi yang berbasis pada paradigma baru polisi sipil dan community policing. Sebagai bayangkari negara, Polri telah menjadi saksi dan pelaku sejarah lika-liku perjalanan bangsa sejak zaman kemerdekaan sampai dengan era reformasi.

Loading...

Tantangan Polri saat ini semakin berat dan kompleks. Kompleksitas tantangan itu menuntut Polri mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Menurut pandangan penulis,negara telah memperkuat peran dan fungsi Polri dalam menjaga kamtibmas serta penegakan hukum di negeri ini.

Penguatan peran dan fungsi Polri menjadi kebutuhan tak terelakan agar Polri mampu merespon ragam tantangan terkini maupun ke depan. Seluruh jajaran Polri telah dan semakin meningkatkan kompetensi mengacu pada eskalasi tantangan era terkini.

Polri sekarang tidak hanya menghadapi kejahatan konvensional seperti pencurian, aksi kekerasan, pembunuhan, perkosaan, penipuan, pemerasan, premanisme, serta bentuk-bentuk kejahatan jalanan (street crime) lainnya. Tantangan dan tugas yang dihadapi Polri semakin kompleks.

“Tak terbayangkan sebelumnya bahwa penyebaran hoax (berita bohong) berpotensi mengganggu ketertiban umum. Secara kasat mata,Polisi saat ini meskipun belum sempurna dinilai telah mampu menanggapi fenomena hoax tersebut dengan melakukan proses hukum terhadap penyebar hoax  yang menjadi salah satu indikasi dapat merongrong terhadap Pancasila dan kodrat kebhinekaan.  

Selain meng- elimenir hoax, saat bersamaan, Polri juga memerangi terorisme. Masyarakat terus menuntut polisi untuk melumpuhkan dan mengeliminasi sel-sel teroris di dalam negeri dan itupun terus dilakukan dengan memburu sel-sel jaringan terorisme di berbagai  wilayah Indonesia.

Dan, yang tak kalah pentingnya, dari dua persoalan diatas, masyarakat juga masih gelisah karena kejahatan narkoba masih marak. sindikat narkoba masih terus mencari celah dalam menjalankan bisnis haramnya.**

Nasrul Rully

 

 

Loading...
Tandai
Menampilkan lebih banyak

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close