MERDEKA !! Sebuah Harapan dan Realita

Dirgahayu Ke -74 Republik Indonesia

MERDEKA, memang kata yang sakral bagi kita, bangsa Indonesia.

MERDEKA, adalah kata yang menjadi energi kita untuk terus berjuang.

Ingatlah, Ir. Soekarno, Presiden ke-1 dan pendiri bangsa Indonesia pernah berkata, “Manusia yang MERDEKA adalah manusia yang terbebas dari rasa iri, dengki, srei, dahwen, panasten dan patiopen. Sehingga menjadi manusia yang selalu setiti, nastiti, surti dan hati-hati”. “Manusia yang MERDEKA bukan manusia yang ‘hanya’ mampu bersikap BAIK, juga bukan manusia yang ‘hanya’ mampu bersikap BIJAKSANA, tapi adalah manusia yang mampu bersikap BAJIKSANA ”!.

Loading...

74 tahun sudah Indonesia Merdeka. Tanggal 17 Agustus 2019 ini. Usia yang tidak lagi muda sebagai bangsa. 74 tahun, adalah usia sepuh. Sangat matang. Usia yang tidak hanya harus bijaksana, tapi juga bajiksana. Begitu kata Bung Karno.

Merdeka bukanlah bebas tanpa batas. Bukan pula bertindak semaunya. Kita Merdeka karena kita bisa lebih Jujur, lebih tanggung jawab, lebih peduli dalam segala bidang kehidupan yang dekat dengan kita. Merdeka yang seperti itu lebih dari cukup untuk bangsa ini.

Merdeka bukan raga, tapi jiwa. Bangsa ini dan rakyatnya sudah terlalu sibuk membangun raga dan fisik. Di saat yang sama, kita lupa membangun jiwa atau batin kita. Bukankah Kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian hanya ada pada jiwa kita, bukan pada raga kita. Merdeka-kan jiwa kita jauh lebih baik dari merdeka-kan raga kita. Renungkanlah .

MERDEKA, secara realitas kita memang sudah merdeka, tidak lagi dijajah oleh Bangsa asing. Tidak ada lagi gempuran roket yang menerjang di pusat kota, Kita sudah tidak berperang lagi.

Lalu kenapa ? Kenapa masih ada di sebagian diri kita yang selalu mengagungkan senjata sebagai pertahanan kepentingan pribadi, kenapa tidak untuk kepentingan Negara ?  Kenapa di luar sana masih ada yang melakukan baku tembak, kenapa masih ada perang antar suku, antar desa, antar daerah. Bentrokkan terjadi dimana-mana.

Media memberitakan peristiwa kerusuhan di berbagai pelosok Negeri ini. Bukankah Negeri ini sudah Merdeka ? Apa kita sudah lupa dengan bunyi Pancasila yang selalu kita sebutkan saat upacara bendera ? masih ingatkah an sila ketiga “Persatuan Indonesia”. Apakah dengan kerusuhan dan bentrokkan kita bisa dikatakakan bersatu ? tentu tidak! Kebanyakan dari mereka melakukan aksi seperti itu hanya ingin menuntut kepentingan pribadi.

Menurut pendapat para ahli, kita masih dijajah oleh yang namanya “kebodohan”. Kekurangpahaman kita terhadap sesuatu hal yang baru, memaksa kita mengikuti sebuah arus yang entah bermuara ke hal yang positif atau terjun ke muara yang negatif. Sebuah pertanyaan besar bila melihat tingkat kemiskinan yang masih menghantui para generasi penerus Bangsa, untuk masalah ini mungkin dianggap sepele oleh koruptor yang merajalela.

Menguras secara perlahan uang rakyat serta membuat bangsa ini menjadi goyah dengan tumpukkan utang. Bukankah dulu kita adalah Bangsa yang mandiri, yang memiliki sumber daya alam paling banyak didunia.

Kenapa di zaman sekarang sumber daya alam kita dikelola oleh Bangsa asing, alhasil untuk pembagian untungnya akan lebih besar pemilik kelola di banding pengelolanya. Hal ini akibat oknum yang ingin meraup untung demi kepentingan pribadi. Jika seperti ini terus yang terjadi, tingkat perekonomian Bangsa akan terganggu.

Ditambah lagi oleh penyakit yang tak bisa dipungkiri, efeknya berjangka pendek tapi berakibat fatal untuk kedepannya. Yaitu lupa. Rata-rata sebagian dari diri kita akan terasa mudah lupa oleh suatu hal yang selama ini sudah ditanamkan sejak kecil. Kita akan lupa dengan nila-nilai kebaikan yang sudah diajarkan sejak kecil, Kita mudah lupa pentingnya meniti dan membangun untuk Bangsa kita sendiri, dengan seiring perkembangan waktu ke waktu, kita bisa saja lupa dengan budaya luhur Bangsa ini.

Menurut pendapat maupun pandangan penulis, makna yang terkandung dalam kemerdekaan  Indonesia tanun ini (17 Ahustus 2019-red) mengingatkan kita untuk  kembali kepada ajaran-ajaran kebaikan, kembali untuk mengingat nilai-nilai perjuangan Bangsa kembali untuk peduli pada Bangsa ini, serapuhnya apapun Bangsa ini, segoyahnya apapun Bangsa ini, lakukan hal yang baik untuk tetap bisa menegakkan Bangsa ini. Karena semua tahu, bahwa kita sudah terlahir di Bangsa yang besar ini. Perjuangkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, jangan hanya disebutkan saja, tapi realisasikan dengan kebenaran di kehidupan sehari-hari.

Marilah melangkah bersama untuk kebaikan Bangsa ini, jagalah keutuhan Bangsa ini dengan segenap jiwa dan raga kita. Janganlah jadi generasi yang berkepribadian egois ataupun mementingkan diri sendiri. Mulailah berbagi dan membangun solidaritas sesuai semboyan Bangsa kita. Karena yang menentukan arah kemajuan Bangsa ini adalah diri kita semua.

Jika belum bisa memaknai kemerdekaan Indonesia, kembalilah dan bukalah lembaran buku-buku sejarah atau artikel tentang sejarah di berbagai media. Sesuai perkataan Pemimpin Pertama Bangsa Indonesia, Ir.Soekarno. dalam amanatnya beliau berkata “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah!”. Karena dengan sejarahlah kita dapat pembelajaran dari masa lalu untuk pembenaran dan perubahan di masa yang akan datang.*Salam Merdeka !

*) Dirangkum dari berbagai sumber

Loading...
Tandai
Menampilkan lebih banyak

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close