Lebih Baik “Physical Distancing” di Rumah Sendiri Daripada di “Bui”

Oleh : Nasrul Rully

MEWABAHNYA Coronavirus atau dikenal dengan Covid-19di Indonesia sungguh sangat menakutkan  bagi siapa saja. Virus ini, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan . Ini merupakan virus baru dan penyakit yang tidak dikenal sebelum terjadi wabah di Wuhan, Tiongkok, bulan Desember 2019 lalu.

Kebijakan pemerintah menerapkan Physical distancing (jaga jarak aman) dan Social distancing ( Jarak social) harus dipatuhi masyarakat untuk  penanganan dan pencegahan virus corona COVID-19 di Idonesia. Begitu juga dengan himbauan #dirumahaja,  juga harus dipatuhi untuk memutus matarantai penyebaran covid 19.

Masihkah..masyarakat merasa terbelenggu dengan “stay home” demi keselamatan nyawa kita?  Memang, kebijakan ini berefek  terhadap ekonomi bagi yang berpenghasilan harian. Namun, jika ditelaah secara mendalam apalagi dengan pikiran jernih, ini adalah jalan terbaik bagi keselamatan nyawa manusia. Dan, pemerintah juga telah menyiapkan berbagai scenario bantuan bagi warga terdampak.

Himbauan pemerintah tersebut wajib dipatuhi agar korban tidak semakin berjatuhan. Penulis menganalogikan lebih baik    lockdown di rumah sendiri daripada terpenjara di balik jeruji besi atau “Bui”. Jika kita berdiam diri dirumah, bisa memilih makanan, bisa menghibur diri dengan berbagai tontotan di televisi. Meskipun terbatas tetapi masih bisa  bersama  dengan keluarga dalam keceriaan dan canda.

Sementara kalau terpenjara di balik jeruji besi,penulis merasa tidak perlu dijelasakan. Semua orang sudah mengetahuinya, bagaimana terbelenggunya kalau berada dalam tahanan. Lalu, masihkah kita merasa terbelunggu oleh stay home demi keselamatan jiwa dari penyebaran virus corona yang bisa merenggut nyawa siapa saja.

Jika ditelisik, terdapat pesan moral maupun secara phsikologis dibalik wabah corona. Setidaknya, kita bisa membayangkan, merasakan bagaimana hidup dalam penjara dan mendekam dibui yang jauh dari layak ditambah lagi jauh dari keluarga. Mereka yang kita tinggalkan hidup sarat beban dan penderitaan lahir dan bathin.

Artinya, covid 19 mengajari kita cinta keluarga, mengajari kita berkumpul berbagi cerita, bercanda ria dengan anak dan istri. Covid 19 makin mendekatkan kita pada Illahi, bahwa kematian itu tak jauh dari kita, kata salah seorang rekan saya sesama jurnalis bernama Novri yang bertugas di Sumbar.

Dan, yang tak kalah penting pesan dari pandemi covid 19 ini, penulis mengajak para pejabat negeri ini, masih beranikah anda melakukan korupsi demi kebahagian duniawi ditengah penderitaan rakyatmu. Semuanya terpulang dari niat anda masing-masing.**

Tandai

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close