Diskusi Via Aplikasi Zoom “Shooting Dimasa Pandemi Corona-19?, Siapa Takut”

JAKARTA | POROSTVNEWS.Com – Semestinya film Indonesia sudah bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Namun faktanya, hingga saat ini beberapa tahun terakhir penyelenggaraan perfilman saja stagnasi, karena Undang-Undang (UU) Nomor 33 Tahun 2009, masih belum berjalan dengan baik.

Ketua Divisi Penyutradaraan Persatuan Karyawan Film dan Televisi Indonesia (KFT Indonesia) yang juga Sutradara Film dan Sinetron yang masih produktif saat kini Maruli Ara, bersama Ketua Umum PO KFT Indonesia Gunawan Paggaru menyelenggarakan forum diskusi terbuka secara virtual melalui Aplikasi ZOOM dengan Judul “Shooting di masa Pandemi Corona-19 ? Siapa takut”.

Sementara disisi lain sebagai Moderator Bedjo Soelaktono dan Menzo Konoralma

Adapun Panitia Penyelenggara, Didien Rochidien ( sutradara ), Effie Zen ( sutradara ), Ronny Mepet ( sutradara),
Bedjo Soelaktono ( sutradara), Edward AN ( sutradara ), M. Iqbal ( sinematografer – Director Of Photografi).

Tujuan dari pada forum diskusi ini tidak lain untuk memberikan pencerahan kepada kalangan pelaku perfilman, para kreatif, aktor dan aktris, produser film dan para pekerja film dan sinetron Indonesia yang selama ini paling terkena dampak dari pandemi Corona-19, Selama PSBB diberlakukan oleh pemerintah untuk semua kalangan masyarakat di tanah air, khususnya Insan Film Indonesia sama sekali tidak melakukan kegiatan shooting (di rumah aja).

Dengan new normal sekarang tentunya perlu ada pencerahan mengembalikan mental kesiapan kembali shooting mengikuti aturan protokol kesehatan sesuai SOP yang di atur oleh pemerintah. Dari hasil diskusi ini diharapkan menjadi kebangkitan baru industri Film di tanah air selama Covid-19.

Setidaknya diskusi terbuka secara virtual melalui Aplikasi ZOOM dengan Judul “Shooting di masa Pandemi Corona 19 ? Siapa takut” dalam Peran Serta Masyarakat Perfilman, yang dihadiri lebih dari 80 insan film dan pemerhati masalah perfilman, dan para kritikus film nasional.

Diantaranya para tokoh perfilm nasional pemberi materi adalah, Gunawan Paggaru ( ketua umum KFT Indonesia), Syaifullah Agam ( Direktur Kreatif film, televisi dan animasi Kemenparekraf), Deddy Mizwar ( Aktor senior, sutradara dan produser).

Diskusi melalui aplikasi Zoom ini digagas oleh Pengurus Divisi Penyutradaraan kerjasama dengan PO KFT Indonesia.

Maruli Ara juga mengajak pekerja film, untuk melihat kondisi perfilman yang sebenarnya, tanpa harus ada kecurigaan-kecurigaan, apalagi kebencian, terhadap pihak-pihak tertentu. Insan film agaknya cukup lelah untuk diadu domba dan terpecah-pecah.

“Ketika terjadi silang pendapat dan tindakan yang merugikan Film Indonesia, maka kita mencari solusi terbaik agar peraturan menjadi acuan untuk berkarya,” ujar Ketua Pengurus Devisi Penyutradaraan Maruli Ara via seluler.

Industri perfilman Tanah Air
menunjukkan pertumbuhan yang menggemberikan, hal ini terlihat dari semakin banyaknya jumlah film yang diproduksi dan jumlah penonton film nasional serta pemirsa televisi (sebelum terjadi musibah Covid-19, Red).

Sementara di tempat terpisah Gunawan Paggaru Ketua Umum KFT Indonesia menyampaikan, saat sekarang ini Marwah Film dan Sinetron Indonesia sudah nampak dan terlihat jelas, tidak hanya di Jakarta tapi juga berbagai daerah di Indonesia untuk mengisi konten di televisi lokal.

“Semakin banyak pula film dan sinetron Indonesia yang menunjukkan kualitas film nasional terus meningkat. Meski begitu, potensi pengembangan industri ini sangat besar,” sebut Gunawan Paggaru.

Apalagi film memiliki fungsi hiburan, pendidikan, dan bisnis atau industri. Oleh karena itu, dia menilai butuh kreativitas, inovasi, dan profesionalitas pelaku yang nantinya memiliki kompetensi sertifikasi setiap profesi, sehingga dapat memproduksi film berkualitas yang dapat memajukan industri film nasional.

“Apabila industri film berkembang akan mendorong pengembangan industri lain, pelaku bisnis, seperti kuliner, fesyen, dan lainnya. Film juga merupakan industri yang besar karena menyerap banyak tenaga kerja,” tegasnya.

Sebagaimana yang diharapkan oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), terbatasnya jumlah sumber daya manusia (SDM) pada industri ini.

Tidak bisa hanya mengandalkan talenta tapi harus mendapat pendidikan yang bersifat peningkatan kompetensi. Tentunya seiring dengan perkembangan industri film nasional, jumlah tenaga kerjanya pun makin meningkat.

“Sertifikasi kompetensi insan film, bukan menghambat tapi mempercepat pengembangan film nasional karena mampu menghasilkan lebih banyak film berkualitas sehingga lebih banyak menarik penonton,” ungkap Gunawan Paggaru Ketua Umum PO KFT Indonedia.*

PENULIS : EDWARD. AN.

Tandai
Menampilkan lebih banyak

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Close